0

Only depend on You

#Pernah nggak loe melewati sebuah titik hidup tanpa ekspekatasi apa-apa?

Loe cabutin semua kertas-kertas rencana,

Loe coretin semua semua timeline hidup loe yang penuh sesak dengan agenda.

Buku mimpi yang seperempatnya telah menjadi nyata,

Loe tutup dan masukin kardus kolong meja.

Dan teka-teki hidup membuatmu harus benar-benar bertekuk lutut pada sebuah doa,

“Ya Allah, terserah Engkau saja”.

Iklan
0

Bukan Salah Presiden

 

Maka tibalah pena, pada tajuk sejarah suatu pagi

Menuliskan kisah hitam putih sebuah generasi

Panjang bernarasi, nan lugas beropini, pun gegas berdikari

Selembar dari lelembaran dan satu dari sesatuan negeri

Ia baru saja melahirkan demokrasi

Warna harinya berwarta dan corak wartanya berhari

Menjual obral penjara tirani dan membeli mahal kebebasan pribadi

Ditawarkan pada pedagang kaki lima dan supir metromini

 

Layaknya maha saksi abadi

Lalu lelintasan tak pernah mati

Siangnya, hiruk-pikuk oleh celetuk rutuk para pengutuk

Petangnya, riuh kisruh oleh gemuruh para perusuh

Kata telah enyah percuma

Diumbar sangar di tengah kota

Sia-sia orasi, tak dapat solusi

Hanya simpati, sekedar apresiasi

 

Para awam geram

Negeri seribu lautan namun baru saja impor garam

Memaksa proletar berijazah kasar berduyun ke negeri tetangga

Mengadu aib sendiri tetiba berujung adu domba

Satu masalah belum jua usai kau tambah benih permusuhan lagi

Tak puas rupanya sudah menukar harga diri dengan sekeping roti

Merasa gagal menjadi negara lalu semua tunjuk tangan ingin berdiri di depan

Beryakin diri mampu menodong kemiskinan dengan senapan kebebasan

 

Nyatanya, ada yang terkoyak di sudut negeri nun antah berantah

Terjamah penjajah yang sempurna menjarah

Mula bersama bekerja, selanjutnya mereka yang kaya

Di depan duduk semeja, di belakang gencatan senjata

Negeriku bungkam, muram sembari terdiam

Sebab bicara satu jam puluhan hari ia dikecam

Maka aku mencari sepuluh pemuda

Yang tak cecuma pandai bicara, namun securah berkarya

Untuk negeri yang katanya akan mulai mendewasa

Meski hanya berbekal keterampilan membaca

 

Dan di akhir kisah, tenggelamlah perahu para pengumpat,

Di hadapan sekian jejuta rakyat.

 

Seratus hari mencoba sempurna

Tak cukup sederhana

Sewindu merubah wajah sejarah

Tak semudah membaca sumpah

Ini soal amanah

Hingga sesegala mutlak telak milik yang di langit

Sedang tugas kebangkitan hanya perlu bangkit

 

Bukan salah presiden,

Bahkan sampai membuatmu tak hendak punya argumen.

 

Di sebuah bumi yang mencintai langit, 09032014

Setetes tinta untuk Indonesia.

Dari saya, Roisiyatin.

 

 

0

Mamanda

 

Mamanda,

Kau Mamak terlebay sedunia.

Tiap hari Kau bertanya, jodohku siapa

Aku jawab saja,

Sudahlah, tunggu saja tanggal mainnya, Allah belum bocorkan rahasiaNya.

 

Manda,

Tiang arogansi terpancang  di ubun-ubun

Hanya akan runtuh sekali dalam setahun.

Bendera pongahku terpaksa kuseret turun

Hanya ketika aku berdiri di depan pintu rumahmu tertegun.

 

Telah kususur kelana seribu kata

Telah kupijak ranah sejuta warna

Telah kusinggah rumah seratus manusia,

Tak satupun rela mendekapku selamanya.

Tapi Kau Mamanda,

Selalu menyediakan untukku celah dada

Yang menampung tabungan kesah tumpukan cerita

Ya Kau Mamanda,

Selalu menyiapkan berlembar-lembar jiwa

Yang menerima simpanan tangis bulir-bulir asa

Dalam rapal demi rapal doa.

Mamandaku,

Akan kujejak sudut bumi

Dan kupanjat langit tertinggi

Untuk kubawakan Kau matahari.

 

Maafkan aku,

Bertahun bilangan aku tak tak datang

Karena anakmu ini telah lupa jalan pulang.

Aku amnesia mana pagi mana petang

Aku insomnia kapan malam kapan siang.

Karena ujian hidup kuhadang

Sebab ombak kutantang

Semua ini demi ummat yang gemilang.

 

Mamandaku,

Akan terus kudayung kapalku

Sejauh langit masih membiru

Akan terus kukayuh laju bahteraku

Seluas samudera pengabdian para guru

Akan kukibarkan cita-cita ummatku

Setinggi-tingginya,

Sejauh-jauhnya,

Tapi nanti…

Kau tetap pelabuhan terakhirku.

Medio Februari, 22022014

Di sebuah kota yang mencintai bumi

0

Rugi di elo, Untung di gue !

Yang kuliah jurusan Ekonomi WAJIB baca, selain mereka sunnah aja. 😀

Kisah ini nyata dan sedikit didramatisasi.

Hari ini saya menyaksikan ketidakproduktifan sikap seorang petugas lembaga keuangan bernama bank “tertentu” syariah *nama bank disensor ya* daerah Bogor. Jadi begini ceritanya…

Tadi siang, saya masuk sebuah ruko kantor cabang bank titik-titik*sensor** syariah di kawasan Tajur Bogor setelah sebelumnya berjuang melawan hujan yang membadai di luar sanah, baju basah sedikit kuyup *Bogor memang hujan setiap waktu, jadwal prakiraan cuaca BMKG menjadi tidak laku*, sembari terburu-buru,

Di pintu depan, seorang petugas menyambut dengan amat sangat ramah, sambil tersenyum service excellent 2-2-5 “Assalamualaikum, selamat datang bisa dibantu?” dan tentu saja saya balas dengan senyum termanis yang saya punya,

“Waalaikumussalam, Saya mau setor tabungan Pak”, sambil ngeloyor ke meja penyetoran niat ngisi form,

Sekilas nampak beliau memperhatikan, saya tak enak. Naluri ke-akhwat-an saya berkata “Apakah ada yang salah dengan saya, sehingga membuatnya tak jaga pandangan, haha??”. Namun logika saya menyadari tanda-tanda beliau berjalan ke arah saya, “aduh jangan-jangan gueh mau dirampok, mana gede lagi duit di tas, duit orang pulak”, mulai baca ayat kursi dalem hati,

“Mbak, mau transfer ya?”, selidiknya

“Iya Pak”, flat

“Kemana??” Tanya lagi, pengen banget gue bilang “ke rekening Bapak, berapa pak minta no rekeningnya dooong”, tapi ya gak lah.

“Ke bank ……*sensor*, pake kliring,” yang jelas bukan bank dia, artinya lintas bank.

“Kalo pake kliring paling cepat 4 jam, setorkan aja ke rekening mbak dulu, kemudian nanti transfer via ATM, sudah cepat, gratis lagi, nanti tinggal masukkan kode 002 di awal nomor”, solutif sekali statement beliau. Aku seperti melihat sayap cemerlang di punggungnya *apakah ini malaikat?,

“Kalo pake kliring bayar 25ribu”, tersenyum lagi beliaunya.

O..ow, sekedar tahu ya, ini adalah praktik office channeling, dimana transfer ke bank konven itu bisa dari bank syariah, dan itu tentu kena charge.

Kalo gue jadi manager bank ini, udah gua pecat nih karyawan, bagaimana tidak??!! Bank yang harusnya dapat gain/fee dari transaksi ini, jadi kagak jadi. Padahal suka-suka nasabah dong mo pake kliring kek, klereng kek, hak penuh nasabah. Apalagi kalo dilihat ini transaksi menguntungkan pihak bank, eh kok malah disarankan transaksi lain yang notabene malah menutup kemungkinan fee masuk ke kas bank jadi laba dari transaksi ini.

Padahal niat awalnya, saya hanya ingin mengaplikasikan ilmu sisa peninggalan jaman saya kuliah tahun lalu, meski harus korban beberapa puluh ribu. Tapi karna saya tentu harus menghargai layanan si Bapak petugas, saya pun manut alias sami’na wa atho’na, meski dalam kasus ini saya jua-lah yang diuntungkan, niatnya pengen nyumbang dikit ke bank syariah, akhirnya kaga jadi kehilangan duit dua puluh lima rebu, *xixixi lumayan masih bisa buat beli baso semangkok di resto sebelah, xixixi.

Hikmahnya : Yah, meski di satu sisi, sikap itu tidak produktif dan menumbuhkan sedikit potensi kerugian bagi bank karena sama saja mencegah uang masuk ke kas bank, tapi di sisi lain si Bapak 1000 persen berhasil dalam memberikan pelayanan prima kepada customernya. Saya jadi bahagia… meski jangka pendek kurang produktif untuk bank, namun si Bapak  telah memberikan kinerja amat baik melalui prime service-nya, semoga nasabah makin meningkat trust-nya kepada lembaga. Dan ini sangat membantu meningkatkan loyalitas nasabah seperti saya. *Makin setia jadinya…xixixi ^_^

0

Ya, karna hidup adalah perjuangan

Aku adalah orang yang selalu menemukan harapan dalam setiap hal yang ada

Aku adalah orang yang selalu punya harapan, slalu berharap, intinya

Namun dalam hal ini, kali ini aku harus membunuh harapan

Ya, harapan itu harus kukubur

Hatiku pernah berkata, aku harus memiliki itu

Namun seluruh komponen akalku menolak untuk memilikinya

Dari dulu, hati dan akalku selalu berdampingan dan berkawan baik

Namun sekarang, akalku harus mengibarkan bendera perang pada hati

Ya memang hidup itu memilih,

Aku harus berpikir harus memulai ini dari mana

Harus memilih untuk memulai dari apa

Dan yang kita tahu, bahwa di dunia ini, ada orang yang menginginkan kita namun kita tak menginginkannya

Ada pula orang yang kita inginkan, namun dia tak menginginkan kita

Dan mungkin, akan ada orang yang kita inginkan dan dia pun menginginkan kita

Oleh karena hidup itu perjuangan, ALLAH memintaku berjuang untuk tidak menginginkan apa yang aku inginkan, dan memintaku untuk mengiginkan apa yang tidak aku inginkan

Pelik ya,

Ya tapi itulah hidup.

Hidup adalah perjuangan.

2

Surat Untuk Gunung Gede-Pangrango, Dari Kami Sang Resimen Sejati

Gambar

Mentriger kembali memori,
Empat tahun lalu di Gunung Salak, Bukit menembak, dan hutan kopi,
Bersama pasukan baret ungu yang punya julukan pasukan berani mati,
25-26 Mei,
Berangkat Cibodas pulang Gunung Putri,
Gede-Pangrango memanggil menanti,
Menyisir petir, menghadang jurang, melawan hujan, bermimpi di sungai, mengunyah pelepah, memanggil gigil, membakar segala sukar, melangkah meski lelah, mendaki menuju puncak tertinggi,
Dan merasakan malam paling mencekam di belantara sunyi,
Namun di lain sisi, ada sesuatu yang tak dapat terbeli,
Pertama kali bertemu dengan Dandelion asli,
Kali pertama mengunyah strawberry hutan bercita rasa tinggi,
Di ketinggian ratusan ribu kaki,
Disambut edelweiss yang tak pernah layu di Surkencana tempat berkumpul para badai,
Bertemu mata air yang belum terkontaminasi,
Bersua ratusan makhluk yang belum pernah ada di Ciawi,
Belajar beradaptasi dan mempertahankan diri,
Mendapati hal yang tak didapati,
Sampai-sampai ada yang tertinggal di ketinggian puncak pass karena lupa daratan dan lupa diri,
Semoga masih ada saat aku kembali lagi kesana nanti,
“the Leader” menjadi korban kekaguman pada alam nan indah ini,
Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustai???? (Sungguh bodoh orang yang tak berTuhan! Masih tak menyadari mahakarya Ilahi sekeren ini????!!!)
Dan kami, disambut dan diantar kawanan hujan berangkat dan kembali,
Lalu ada harap tak terucap, bahwa atas izinNYA, semoga kami dapat kembali mengunjungi, suatu ketika nanti..
Kami masih mendengar suaramu selalu memanggil-manggil nama kami untuk kembali,
Salam sayang untuk alam, kepada Penciptamu dan kepadamu kami mencintai.

#Kami dan Aku (Roisiyatin)

Gambar

0

Pesantrenku Cermin Bangsaku (Dibukukan dalam Antologi Nominator 30 Tulisan Terpilih Sayembara Menulis Cerpen Santri Tingkat Nasional Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto)

Pesantrenku Cermin Bangsaku

 IMG_8456

Sore itu asrama begitu riuh dengan suara saling sahut-menyahut santri yang belajar untuk ujian pesantren esok hari. Terlihat gerombolan santri putri di sana-sini. Lapangan tampak ramai dengan banyak kelompok diskusi. Pojok kanan, kiri di depan koperasi hingga Bekupon[1] semarak oleh euforia ujian pesantren meski biasanya lebih sering terlihat sepi. Tak terkecuali aku yang menjadi bagian suasana alami ini. Ujian pesantren merupakan moment yang amat menentukan masa depan kami. Naik atau tinggalnya, layak atau tak layaknya kami untuk naik tingkat ke jenjang berikutnya akan ditentukan oleh masa sepuluh hari yang telah dirancang untuk mengakumulasikan kapasitas dan merefleksikan integritas santri selama belajar dalam setahun terakhir dan selama menuntut ilmu di pesantren sebagai evaluasi.

Tiba-tiba tepukan keras di punggungku membuyarkan konsentrasi penuhku, “Sarah, ayo belajar bersama kami”,. Wanda, teman sekamar yang juga sekelas denganku.

“Kamu wajib membagi segudang ilmu-mu kepada kita”, Faiq berkacak pinggang menegaskan permintaan Wanda kepadaku.

Aku terbengong-bengong merasa dihakimi. Lantas spontan membalas tuntutan mereka, ”Sebelum kukatakan iya, ada syarat untuk kalian. Sekarang kita boleh belajar bersama sampai semua materi tuntas, namun besok ketika ujian tidak ada permintaan jawaban untukku dan tak ada surat kaleng ilegal di atas kertas soal. Oke!”, sebelum mereka deal, aku telah menjabat tangan mereka satu per satu.

“Tapi jangan pelit-pelit begitu”. Yani, salah satu dari mereka yang logat bicaranya khas Nusa Tenggara mengajukan keberatan.

Aku pun tersenyum kepada putri asli Flores itu, “Jika tidak deal semua, belajar bersama kita terpaksa gagal”, Aku mengancam mereka dengan optimisme kemenanganku atas mereka.

“Okeh okeh..”, ada sedikit binar kekecewaan di mata mereka di antara beribu binar semangat ’45 mereka. Aku termasuk orang yang menentang contek-mencontek dalam ujian, baik berupa contekan di atas kertas hingga saling bertukar jawaban antar teman. Bukan berarti aku merasa paling bisa di antara semua, tapi bagiku baik-buruknya nilai yang kita dapatkan dalam raport merupakan cermin kemampuan kita yang sesungguhnya, sehingga budaya contek-mencontek justru akan membuat hasil penilaian di raport kami menjadi tidak valid, yang artinya hanya nilai palsu yang tidak menggambarkan kemampuan kita secara utuh.

Diskusi pertama kami adalah pembahasan pelajaran pesantren bernama Ushul Fiqh, yang bagi kebanyakan santri memiliki tingkat kesulitan di atas rata-rata, yang berarti sangat sulit sekali. Tapi itu merupakan tantangan tersendiri bagi kami untuk belajar keras dalam rangka menakhlukkan pelajaran luar biasa itu agar dapat bertekuk lutut di bawah kaki mengakui kemampuan kami.

“Sarah, di Al-Qur’an tidak pernah didapatkan dalil bahwa makan ayam itu diperbolehkan?”, sebuah pernyataan yang lebih terdengar sebagai sebuah pertanyaan. Lagi-lagi Yani, dia memang yang terlihat paling bersemangat di antara yang lain. Mereka mendaulatku sebagai pemandu belajar bersama karena menurut mereka aku lebih cenderung terbuka dengan termin-termin pertanyaan yang dibuat oleh teman-temanku di kelas. Mereka telah men-kontrakku sejak hari ini sebagai pemandu belajar sore mereka selama ujian, sehingga esok tak akan ada lagi talk show ketika ujian berlangsung. Aku menang atas mereka 1- 0.

“Terdapat kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi Al-Ashlu Fil-Asy-Yaai Al-Ibaahah yang artinya asal hukum segala sesuatu tentang keduniaan itu boleh. Kemudian coba lihat Surah Al-Baqarah ayat 29 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk termasuk binatang untuk manusia agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan pengecualian yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 172-173 yang menyatakan bahwa yang haram hanya darah, bangkai, babi, dan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya”, aku menjelaskan semampuku.

Mereka menyimak penjelasanku dengan terdiam, entah diam karena mengerti atau berpura-pura mengerti. Semoga memang benar-benar mengerti. Akhirnya beragam pertanyaan lain muncul sesudah pertanyaan pertama lahir sebagai pemantik. Tidak hanya Aku saja kini yang menjadi narasumber, tapi potensi-potensi terpendam mereka akhirnya muncul ke permukaan penuh percaya diri. Aku bahagia melihat antusiasme mereka, lebih berbahagia lagi ketika mengingat esok akan dimulai babak baru perlawanan terhadap budaya contek-mencontek yang hampir sudah jadi tradisi. Dulu Aku sempat berpikir bahwa tak mungkin ada kecurangan dalam ujian di pesantren, nyatanya memang selalu ada oknum dalam sebuah sistem meskipun telah dibingkai dengan aturan-aturan islami. Hukum alam selalu menciptakan dua sisi. Ada hitam dan ada putih, ada siang dan ada malam, ada baik dan ada buruk, ada kelebihan dan ada kekurangan, serta ada sisi positif dan sisi negatif. Ternyata di pesantren pun tak semuanya bersih, karena memang harus ada noda supaya yang lain mampu menjadi pembersih bagi sisi kotornya. Meski sedikit oknum yang menjadikan contek-mencontek sebagai budaya, tapi dari sedikit itulah dikhawatirkan akan berlaku hukum “gara-gara setitik nila rusaklah susu sebelanga”. Namun jika  sedikit demi sedikit sisi positif bergerak menghapus sisi negatif, maka kebathilan yang kita temukan merusak tatanan sistem yang baik akan terkikis habis oleh kebaikan.

Sore itu benar-benar terasa bagaimana tolong-menolong dalam kebaikan tumbuh bersemi, yang semoga akan mengganti tolong-menolong dalam kebathilan yang kerap dipraktekan dalam ujian selama ini. Kesadaran harus selalu ditumbuh-suburkan dalam masing-masing diri. Kesadaran bahwa berlaku tak jujur dalam ujian akan mengubur rasa percaya diri, mengikis potensi alami dan menghapus kesadaran pribadi.

Suasana riuh rendah belajar malam di asrama tercipta ketika bel belajar berbunyi keras. Rutinitas belajar di asrama berlangsung selama dua kali ketika sore dan malam menjelang istirahat. Para santri memanfaatkan waktu dua jam setelah Sholat Isya’ dengan belajar fokus, tapi tak jarang pula kita mendapati beberapa di antara mereka yang berpura-pura membolak-balik bukunya sambil berbincang hal-hal tak penting hanya sekedar menanti bel belajar habis tuntas. Namun ketika musim ujian tiba, belajar tak hanya sebatas formalitas. Rasa malas mendadak terlepas. Semua santri berlomba-lomba menuju masjid dengan bergegas. Dan kebisingan kantin seakan telah kalah dengan keramaian kelas. Semua terkondisikan dengan gegap gempita ujian untuk sebuah tujuan agar naik kelas. Andai setiap hari adalah ujian, maka kuyakin generasi kita akan menjadi generasi cerdas pembangun peradaban emas.

*****

Hari pertama ujian. Semua telah menunggu di kelas tanpa buku dan catatan. Aku duduk di bangku nomor dua dari depan. Seluruh alat tulis telah siap dalam genggaman. Materi pelajaran telah tersimpan rapi dalam file otak hasil hafalan semalam. Senyap suasana kelas pecah oleh sebuah sapaan salam tanpa aba-aba memenuhi ruangan.

Assalamu’alaikum warahmatullah”, suara dengan notasi pendek berintonasi tinggi yang sangat kami kenal.

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, serempak kami menjawab sedikit mengurangi ketegangan berhadapan dengan ujian hari pertama.

Ustadz Slamet adalah ustadz favorit kami. Beliau adalah seorang keturunan Jawa. Perawakannya kecil tapi tegap. Jika ditaksir, kira-kira usianya hampir setengah abad. Gaya mengajar beliau berbeda dengan guru-guru kami yang lain. Berpembawaan ceria, ekspresif dan sangat dekat dengan para siswanya. Beliau bisa dengan tiba-tiba datang ke kelas dengan gaya Cowboy dan mengucapkan salam lantang berintonasi tinggi. Lalu kami akan terlonjak kaget dan tertawa menyaksikan beliau beraksi. Kali ini beliau datang dengan gaya lama yang mengesankan sekali.

Kertas jawaban dan soal telah dibagi dan seluruh peserta ujian mulai menenggelamkan diri dalam lautan ilmu serta berkelana menyusuri file hafalan materi yang sudah dipersiapkan dalam lembar-lembar memory. Dalam hening yang pecah, sang Ustadz merangkai keping hening itu dalam rantai suara “Ingat anakku, kita akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang kita usahakan. Aksi akan menghasilkan reaksi. Lebih baik nilai buruk hasil sendiri daripada nlai baik hasil korupsi. Kecurangan dalam ujian berarti korupsi terhadap masa depan. Jangan biarkan darah kita dan darah anak keturunan kita ternodai karena perbuatan kotor kita saat ini. Kejujuran selalu mengundang keberhasilan. Jujur itu mujur, tak jujur hancur”, Ustadz Slamet mengacungkan telunjuknya di depan para muridnya satu per satu. Kami pun semakin tenggelam dalam pergulatan otak yang seru.

Ujian berjalan dengan tertib, lima belas menit bertahan dalam senyap. Lima menit selanjutnya mulai terdengar suara-suara wajar santri saling pinjam-meminjam alat tulis yang masih belum lengkap. Sepuluh menit seterusnya terdengar suara bisik-bisik dari arah belakang terdengar seperti transaksi suap-menyuap. Rika tetangga bangku yang tampak khusyu’ mengerjakan soal secara cepat menyodorkan selembar kertas kecil kepadaku sigap. Aku menoleh sejenak ke belakang, kulihat Yani menatapku dengan senyum dan mata yang dibuat mengerjap. Kubuka kertas kecil yang pasti permintaan sebuah jawaban, prediksiku tepat. Aku menuliskan sesuatu di atas kertas, yang membuatku yakin bahwa setelah ini tak akan ada lagi kertas permohonan jawaban berkunjung padaku saat ujian berlangsung membuyarkan konsentrasiku yang mudah lenyap. Aku tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana wajah pemimpin bangsa di masa datang jika generasi bangsa kita hari ini adalah mereka yang berani bersikap tidak jujur dan tidak konsisten dengan apa yang telah mereka sepakati dan ikrarkan.

*****

“Ayolah Sarah, satu kali saja kasih jawaban untuk kita. Jangan khawatir, nilai kita tak mungkin dapat melampaui nilaimu”, cibir Yani ketika kami telah kembali ke asrama dan telah sukses melewati hari pertama dengan harapan dapat mempertahankan nilai terbaik di kelas.

“Hanya orang bodoh yang menganggap dirinya tidak bisa”, Tika melirikku sambil menirukan kalimat yang aku tulis tadi siang sebagai jawaban ketika mereka melempar surat tak bertuan berisi permintaan jawaban.

Aku tersenyum, “Masih tetap pada kesepakatan awal bukan??”, Aku menimpali sindiran mereka dengan gaya yang kubuat semahal mungkin. Belajar bersama masih tetap akan berlangsung selama ujian. Hari ini adalah hari kedua, artinya perjalanan kami masih panjang.

Di tengah keasyikan itu, kami dikagetkan oleh bunyi pengeras suara yang tidak biasanya beroperasi ketika bel belajar sedang berlangsung. “Assalamu’alaikum.wr.wb…Pengumuman. Yang terpanggil namanya di bawah ini harap melakukan klarifikasi ke ruang guru terkait pembayaran biaya SPP untuk dapat tidaknya mengikuti ujian pesantren esok hari hingga seterusnya………”, pengumuman kali ini lebih menegangkan bagiku, lantaran aku selalu berlangganan setiap tahun melakukan klarifikasi kepada pengurus pesantren bagian keuangan karena masalah SPP yang sering menunggak, sehingga harus membuat surat perjanjian melunasi SPP jika ingin diperkenankan mengikuti ujian hingga tuntas. Dalam hal ini, aku memang tak seberuntung teman-teman yang lain. Keadaan ekonomi orang tuaku memang tergolong menengah ke bawah, sehingga SPP sering dibayar tiga bulan sampai empat bulan sekali karena menunggu panen tiba. Resikonya adalah bisa dicabutnya izin mengikuti ujian pesantren sebagai peringatan atas SPP kami yang belum dibayar hingga sekian bulan, jika tanpa klarifikasi dan surat perjanjian untuk membayar. Dan aku tahu namaku pasti ada dalam daftar pengumuman.

*****

Hari terakhir ujian bagi teman-teman. Sudah sepekan ini aku menguat-nguatkan diri untuk bersabar atas ujian yang lebih berat dari pada ujian pesantren. Ujian dari Allah untuk menilai seberapa baik kesabaran yang kupunya. Aku tak dapat mengikuti ujian pesantren sebab enam bulan SPP belum dibayar, dan yang terjadi tahun ini panen mengalami kegagalan. Aku sadar bahwa tak mungkin ada beban tanpa pundak. Aku berdiri dengan keyakinan tinggi, pasti ada hikmah terindah yang akan menyongsong setelah ini.

Calendar yang menggantung di kamar menunjukkan bahwa hari ini tepat Tanggal 13 Juli 2006, akan ada agenda acara besar persisahan santri kelas tiga Aliyah. Setiap tahun aku selalu menantikan moment dimana aku dapat bertemu tokoh-tokoh Islam dan tokoh nasional yang kerap diundang sebagai narasumber dalam orasi ilmiah yang merupakan salah satu rangkaian acara perpisahan. Tahun lalu saja Ketua MUI Pusat menjadi narasumbernya, dan hal itu adalah kesempatan besar dan langka yang teramat sayang jika disia-siakan. Kedatangan Menteri Agama sebagai pembicara dalam acara malam nanti sedikit mengobati hatiku yang sedang gundah gulana. Aku akan berusaha untuk mengikuti ujian susulan yang akan dilaksanakan saat liburan nanti. Tak masalah jika harus menukar waktu liburan dengan ujian susulan, karena Aku ingin tetap mempertahankan nilai terbaikku di kelas. Semua hal selalu ada resikonya, dan segala masalah selalu Allah ciptakan satu paket bersama solusinya. Jadi tak perlu aku risau berlebihan.

Panggung megah di dalam Aula Pesantren Al-Ittihadul Islamiy telah membawa atmosfer kesedihan sekaligus kebahagiaan. Kesedihan karena malam ini adalah malam dimana kami harus melepas santri yang selama ini kami jadikan teladan, senior yang senantiasa membimbing kami akan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya di asrama kepada kami yang tahun ini naik sebagai kelas paling sepuh di pesantren. Mengingat ihwal ujian kenaikan kelas, hatiku kembali bersedih sesaat.

Tibalah saatnya Bapak Menteri yang sangat kami hormati tersebut menyampaikan orasinya di atas panggung kehormatan. Kewibawaan terpancar dari awal beliau menyampaikan pembukaan. Gaya bicara beliau yang komunikatif membawa beliau bertanya kepada seluruh peserta yang menyimak serius setiap kata yang beliau sampaikan.

“Generasi bangsa yang sangat saya banggakan, siapa di antara kalian yang masuk pesantren atas kemauan sendiri tanpa paksaan dari siapapun terutama orang tua?. Acungkan tangan”, pembukaan yag interaktif.

Refleks aku mengacungkan tangan tinggi-tinggi sambil menatap beliau dari kejauhan tempat aku duduk. Tak disangka ternyata beliau memintaku maju ke depan panggung. Akhirnya aku sadar bahwa tak ada yang mengacungkan tangan selain aku sendiri. Aku grogi saat berada di depan panggung, keringat dingin bercucuran deras seakan menunggu eksekusi dari Bapak Menteri. Kegugupan dan kegembiraan lebur menjadi satu adonan.

“Inilah calon Menteri Agama kalian di masa depan. Jadikan pesantren sebagai miniature bangsa yang akan datang”, beliau menunjukku yang semakin beku di tempatku berdiri. Tepuk tangan bergemuruh di seluruh penjuru aula yang dihadiri oleh ribuan orang mulai dari segenap santri Al-Ittihadul Islamiy, orang tua wali santri, para ustadz, guru dan tamu undangan kehormatan lain yang diundang dalam acara tersebut. Kuteriakkan kata Amiiin dalam hati. Saat itu juga ada gerimis di hatiku.

Setelah acara berakhir aku dipanggil oleh Kepala Sekolah untuk bertemu dengan Menteri Agama. Acungan tangan keberanian dan kejujuran yang mengantarkan pada takdir yang tak pernah diprediksikan. Perbincangan akan banyak hal mengenai prestasi dan keadaanku apa adanya antara beliau, aku dan Kepala Sekolah, menarik hati Menteri Agama untuk memberikan beasiswa penuh hingga akhir masa studiku di sini. Sungguh, inilah yang dimaksud dengan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka. “…Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka akan disediakan baginya jalan keluar dan akan diberikan padanya rejeki dari arah yang tak disangka-sangka…”(Ath-Thalaq : 2-3)

*****

13 Juni 2033

Malam ini, Aku mengunjungi rumah tempatku menimba ilmu 27 tahun yang lalu. Rumah keduaku setelah kampung halaman tercinta di bumi Angling Dharma Bojonegoro. Rumah yang telah menempa dan membentuk karakter siapa saja yang menjadi penghuninya. Rumah tempat bersemainya segala cita, tempat terwujud berjuta sujud, tempat diperbaiki beragam pribadi, kuas berpuluh ras, dan rumah asa sebuah bangsa. Di sinilah benih cita tanggung jawab akan peradaban bermula, lalu ramuan doa dan usaha menjadi pupuknya. Dan sungai rahmah kini telah bermuara menuju lautan hikmah. Tahun telah berganti tahun, doa Menteri Agama beberapa tahun lalu didengar oleh-Nya dan kini bukti terkabulnya do’a ada di depan mata.

“Generasi bangsa calon pemimpin yang saya banggakan, 27 tahun yang lalu saya adalah satu di antara peserta yang duduk di belakang panggung seperti kalian. Atas kasih sayang dan izin Allah, hari ini saya tengah berdiri di hadapan kalian. Jengkal demi jengkal bangku tempat saya duduk sampai mimbar tempat saya berdiri tentu adalah sebuah perjalanan panjang yang jika kalian mampu berlari dengan keyakinan, kesungguhan dan ketaqwaan, maka bukan hanya panggung ini yang dapat kalian raih. Panggung-panggung lain yang lebih besar akan mampu kalian dapatkan”, sambutan hangat ini semoga dapat menjadi bahan bakar panas untuk segenap generasi bangsa pejuang agama di pesantren tercinta. Amiin.

Tepuk tangan bergemuruh. Dari tempat kuberdiri terlihat Ustadz Slamet yang dari dulu hingga kini kuhormati dan kukagumi tersenyum padaku.

Bogor, 30 Agustus 2012


[1] Koridor panjang bertingkat sebagai jembatan penghubung antara kamar santri dengan fasilitas umum asrama.