0

Hujan di musim kemarau [1] – Tu[h]an chapter 2

Untuk bertemu dengan orang yang tepat, Tuhan akan mematahkan hatimu berkali-kali. Itu katanya, kata para trainer dan motivator, celakanya, semua orang termakan bualan hiburan omong kosong yang sebenarnya bisa terjadi hanya karena sugesti. Haha, maaf aku jahat memang. Tapi hidup itu tidak sepositif itu, kawan.

“Setiap hari aku bermimpi, dapat berhari minggu dengan syahdu bersamamu. Bermalas-malasan di atas kasur, kamu tidur di pangkuanku, berpura-pura tidur, dan aku tidak akan pernah peduli kepura-puraan itu. Aku hanya akan bahagia memainkan anak rambut keritingmu. Lalu di lain waktu, kita akan berlari-lari kecil di pelataran rumah, ditemani dua gelas jus belimbing madu. Di akhir tahun, kita akan pergi mendaki, gunung tertinggi di Jawa, tempat terhebat yang menjadi cita-cita, Mahameru. Makanya, kadang aku senang memanggilmu Mahameru, kamu seolah destinasi hatiku”.

Rani khusyu mengeja aksara. Cepat. Tugas mingguan komunitas aksara, menulis fiksi di blog bersama.

Ponselnya bergetar halus.

“Maaf ya Ran”, pesan singkat Damar.

Rani hanya membaca, tak membalas. Bukan karena marah, tapi ia pun bingung ingin menjawab apa. Sudahlah. Nikmati saja, jika memang ada sebulir cinta diantara mereka, biarkan mengecambah, pada saatnya akan tumbuh ia akan tumbuh seperti yang seharusnya. Tapi jika memang bukan cinta yang Tuhan titipkan, biarkan ia kerontang tersengat matahari, dan kering di punggung tanah retak. Rani tidak jatuh cinta, ia bersikeras, ia hanya sedang gede rasa. Hidup memang tidak melulu soal cinta. Berjalanlah saja, hiduplah saja, maka hidup akan mempertemukanmu dengan orang-orang baru yang lebih sejalan.

Dulu ia pernah jatuh cinta, ketika duduk di kelas dua sekolah dasar. Bayangkan saja, enam tahun ia mengklaim diri jatuh cinta, mengagumi seseorang yang selalu bersaing nilai darinya, selalu duduk di deretan nomor pertama. Rani di belakangnya, di bangku nomor dua. Dan diam-diam selalu menyimak jawaban ketika sang guru memberi pertanyaan kepada murid-murid di kelasnya.

Kisah itu berlanjut hingga kelas enam. Lalu, cinta monyet itu kandas di tangan bully-an kawan – kawan yang lebih memilih menyandingkan nama pangeran hatinya dengan kawan sebangkunya. Tentu saja, karena ia kalah cantik, kalah tenar, dan yang paling jelas alasannya adalah karena ia diam. Kawan sebangkunya, bocah polos yang percaya diri, terlebih dahulu menyatakan cinta pada pujaan Rani. Dan cinta dalam diam itu, berakhir di sebatas buku harian, di surat-surat yang tak pernah tersampaikan. Miris. Begitulah memang konsekuensi mencintai dalam diam. Jika siap, nyatakan. Disitu kau belajar sebuah keberanian. Jika tak siap, lepaskan. Disitu kau belajar sebuah keikhlasan. Sejak saat itu Rani telah bersiap manakala suatu hari datang sebuah undangan bertuliskan nama kawan sebangkunya dan seorang yang ia puja.

“Ran, jatuh cinta kepada sahabat sendiri itu berat. Terlalu berisiko. Jika cinta itu mengalami kegagalan, kau akan kehilangan dua sekaligus. Seorang Kekasih dan juga seorang sahabat”, Damar sering menyinggung keberadaan bunga edelweis di bukunya.

“We are just friend, aren’t we?! “, “Aku juga tidak mau hanya gegara penyakit hati macam begini, rusak nilai persahabatan. Kisah kita tidak akan berending. Karena kalau diendingkan, bisa berakhir dengan buku nikah atau berakhir dengan kita tak akan berjumpa selamanya,” Rani emosi.

“Lho kenapa begitu? “, Damar protes,” Let it flow, honey. Jika memang akhirnya kamu jodohku, nantinya aku akan menjadi orang yang kau tunggu-tunggu di pelataran taman ini”, “Jalani saja, ikuti saja kata hatimu”,

Andai Damar tahu, Rani paling benci dengan statement terakhirnya. Dia benci dengan filosofi mengalir seperti air. Follow your heart, dan segala kalimat abu-abu lainnya. Kalimat milik manusia-manusia moderat yang biasanya suka berdiri di tengah cari jalur aman. Suka perdamaian, dan membenci sikap epik. Ketahuilah, terus-menerus mengikuti kata hati tidak akan membawamu kemanapun. Kamu perlu menarik garis tegas antara suara hati dan emosi.

Bukan, cintanya Rani tidak bertepuk sebelah tangan, dia hanya ingin menulis cerita bahagia yang tidak ada Damar di dalamnya. Semoga mereka lebih dari sekedar baik-baik saja.

Oke Ran, membijaklah. Dan suatu hari nanti, pergilah jika kamu ingin pergi. Sahabat adalah sahabat. Dia tidak akan menangis ketika kamu pergi. Justeru dia akan melepasmu dengan senyuman dan mengharapkan kembali kedatanganmu. Percayalah.

Bersambung…

Iklan
0

Kamu di Tata Surya [4]

Adalah ia, Damar. Berdarah minang sejati, makanya ia tak pernah teroesir dari kota kelahirannya, dia bukan engku Zainudin yang terusir dari sang pemilik hatinya yang tersuci, Hayati tercinta. Sebabnya juga, kedatangannya selalu ditunggu dan tertunggu untuk keluarganya. Membawa martabat tinggi dan gelar saudagar dari kota.

Kata orang, kota Padang memiliki akromim, Padang, artinya Pandai dagang. Memang sebatas sebutan, tapi nyatanya benar adanya. Delapan dari sepuluh pemuda yang merantau keluar daerah, selalu mencari peluang penghidupan dari hasil membuka usaha. Maka lazim, di pelosok daerah nusantara, warung restu bundo, salero minang, bundo kanduang, lembah anai, sinar minang, dan segala perminangan bertebaran di sepanjang jalan anyer hingga panarukan, kota Lhokseumawe hingga Jayapura.

O iya, Damar, ternyata juga sebuah akronim, tapi ia bukan nama sebuah warung makan, kelak kita akan menyebutnya Uda Marzul.

Seperti kamu di Tata Surya, seperti Damar di hidup Rani.

Dia mengenal Damar di sebuah komunitas pecinta aksara. Mereka, sama, mencintai pena dan prosa.

Katanya, sebelum seseorang benar-benar bertemu cinta sejati, dia akan jatuh cinta berkali-kali. Rani bertemu Damar saat dia beranjak baligh, saat dia sweet seventeen, saat seseorang sedang gigih mencari jati diri. Tapi celakanya, di usia itu dia dewasa, beberapa tahun melebihi usianya, mukanya boros, perbincangannya berat, dan pola pikirnya melampaui wanita yang hampir-hampir melampaui batas kepercayaan diri. Dapat kau bayangkan seorang wanita keras kepala, dia pergi merantau berniat menuntut ilmu, kuliah, tanpa bekal dana orang tua, dia optimis, ya..mungkin nekat lebih tepatnya. Dia lebih memilih berspekulasi dengan nasib ketimbang berpikir logis berhenti berpendidikan tinggi. Perihal nasib yang ditentukan Tuhan saja dia bisa sekeras itu, apatah lagi perihal jatuh cinta. Dia sangat fanatik, pada dirinya sendiri. Pada logikanya sendiri, pada hatinya sendiri.

Rani selalu senang melanglang langkah, melangkah buana. Sebabnya itu, ia bertemu dengan banyak manusia. Di banyak tempat, dia yakin akan bertemu banyak pelajaran, bertemu banyak cerita, siapa tau dari sekian cerita ada satu diantaranya terselip satu cerita cinta. Kisah ini memang bukan tentang kisah Rani dan Damar. Juga bukan tentang Bayu dan Rani, pun atau sesiapa lainnya. Kisah ini milik pemerannya masing-masing. Di tempatnya masing-masing, dan di skenario takdir masing-masing. Manusia berupaya saja, selebihnya biarkan skenario Tuhan yang berbicara.

“Betul ran kamu delapan belas tahun? “, tanya Damar suatu ketika, beberapa pekan setelah perkenalan.

” Kalo memang iya, apa berdampak kepada kehidupan kamu? “Rani melankolis.

“Iya, supaya aku bisa mengukur kapan menikah”, Damar serius, sekilas, di detik berikutnya ia sadar itu hanyalah ucapan reflek manusia berkepribadian sanguinis. Tulus, tapi lebih sering basa basi, dan celakanya dimasukkan hati oleh Rani.

Rani gede rasa, berpura biasa. Padahal hatinya penuh mawar merah merona. Ia tak biasa digombali, sekalinya begitu, akan menjadi hal yang paling dingat sepanjang hidupnya. Makanya kawan, jangan bermanis di depan wanita, jika tak mau ia berharap lebih. Apatah lagi, Damar pandai sekali merajut kata, ucapan biasa bisa tertangkap luar biasa. Dia kelewat ramah pada siapa saja.

Rani mudah jatuh cinta. Tapi ia pandai menyimpan rasa. Suatu ketika, saat acara apresiasi rasa di komunitasnya, akhir bulan, Rani menemukan setangkai bunga krisan putih segar diikat di tali sepatunya, usai pentas berlangsung, jantungnya berdegup tak biasa, dan ia tau siapa orang dibalik adegan romansa sore itu. Siapa lagi, tertebak pelakunya.

Buru-buru ia mencari pria jangkung berkaca mata di atas vespa abu-abu di bawah pohon ketapang, bersiap tancap gas.

“Damar! “, setengah berteriak sembari menunjuk setangkai krisan di tangan kiri. Berjalan menghampiri Damar.

” Jangan ge er ya, itu cuma apresiasi penampilan kamu tadi, kalo diibaratkan kopi, penampilan kamu tadi kopi banget, pait tapi kerasa di lidah, membekas, terekam di ingatan, selamanya “, senyumnya singkat.

” Justru aku mau balikin ini, aku tak biasa dipuji selebay ini “krisan berpindah tangan.

Rani balik badan. Angkat kaki.

Sejurus kemudian. Ia kembali.

Sambil membuka sebuah buku agenda. Di antara deretan kertas putih penuh coretan puisi, menyembul bunga kering berwarna kelabu putih.

“Perkenalkan ini bunga edelweis, semoga persahabatan kita seperti bunga ini”,

Damar memandangi edelweis kusut di atas stang vespanya.

Seraya memandang Rani serius.

“Tau tidak Ran, edelweis itu bunga abadi, tapi ia kering, tak ada gelora”,

“Lantas? ”

“Yasudah, begitu saja. Aku pamit ya, aku ada tugas yang deadline”,

Rani memandangi punggung Damar, sampai menghilang di tikungan rimbunan daun saga. Hampa.

Bersambung…

0

Kamu di Tata Surya (3)

Terkadang kita begitu sangat merindukan sebuah kota hanya karena seseorang yang pernah tinggal disana.

Seorang penyair selalu memiliki seseorang yang tidak bisa ia miliki. Dia pernah mencintai. Dia pun pernah bermimpi akan menua bersama dengan seseorang sampai mati. Dia pernah berperan sebagai aktor utama roman picisan lalu menulis berpuluh puisi setiap hari. Dia pernah membayang sketsa wajah yang akan memeluknya setiap malam sepenuh hati. Dia pernah bermimpi, indah sekali. Melukis sebuah kisah cinta paripurna sehidup semati dan bersama kembali di kehidupan kedua nanti. Mimpi itu dari mana datangnya? Jawabnya ada di ujung langit, kita kesana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberani. Hahahaha fiks ini memang karya fiksi. Semua adalah imajinasi. Biarkan realita membuat panggung sendiri.

Rani di Malang, membawa hutang – hutang. Hutang rindu untuk segera ditagih disana. Jalan berliku, malam gulita. Gulita mencari terang, sepucuk hati yang pernah hilang. Hilang di pintu masuk taman bunga, bersama foto-foto lama. Lama memandang bukit paralayang, ada kenang yang masih menggenang. Sungguh rindu, rindu yang sungguh.

Rani melankolis, memandangi bulir-bulir gerimis yang tak kunjung tiris. Di ujung kaca jendela, ada sepasang mata yang menangis. Dia itu koleris, hampir sempurna, tapi perkara cinta ia kritis. Memang kita tidak pernah bisa menerka kepada siapa kita jatuh cinta. Sebab, hati di luar kendali logika. Kepada siapa cinta dijatuhkan, dia hanya bisa berharap jika suatu saat kelak ia jatuh cinta pada seseorang yang Tuhan anggap terbaik buatnya, dia akan menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya.

Jalanan lengang, satu dua mobil melaju kencang. Menghindari hujan, menerjang genang genangan. Kerlap-kerlip lampu kota samar di kejauhan. Kanan-kiri kebun apel tak pernah peduli siapa sesiapa yang pernah dan akan pernah mengunjungi entah awal pekan atau akhir pekan. Tanjakan tinggi turunan curam, menggeserkan tubuh-tubuh lelah tiga puluh derajat koma sekian sekian. Warung-warung penuh kepul kretek, kopi telah melarutkan kelelahan dan keluhan. Dingin yang hangat, dan beku yang cair, sendiri yang ramai, serta gaduh yang dilanda kesepian.

Rani memutuskan untuk kembali ke Malang. Beberapa berkas sudah ia submit ke sebuah lembaga pendidikan. Dia ingin berkiprah sesuai passionnya, mencerdaskan generasi Indonesia, bekerja untuk peradaban. Muluk-muluk tampaknya, tapi semoga ini bukan sebatas angan – angan. Beberapa kawan sudah apply di lembaga keuangan, satu dua mencoba masuk ke lembaga kementerian, ikut memikirkan kebijakan, lalu sebagian besar masih berjibaku pada papan pengumuman pekerjaan. Rizki, jodoh, nasib dan maut, tak pernah ada yang bisa menduga, semua telah ditulis Tuhan.

Suara ringtone bullfrog sayup,

“Sebentar lagi terminal”, seorang lelaki di seberang bangku agak depan menolehkan wajahnya, rupawan. Si empunya suara segera menggeser auto suaranya menjadi minimal.

“Aku tunggu di warung dekat gerbang masuk ya “, suara sopran di seberang sana.

” Oke”, Rani merapatkan jaket belelnya. Harum, harum jalanan, saksi hidup bahwa dari dua puluh empat jam harinya setiap hari, dia bersaksi bahwa Rani lebih akrab dengan jalan dan matahari dari pada kamar kosan yang kasurnya tak berseprei.

Malang masih serupa Bogor, dingin dan tidak peka, haha bukan itu maksudnya. Pernahkah kau tinggal di sebuah kota, lalu kau jatuh cinta disana?. Jika belum pernah, sekali-kali, jikalau kau ada anggaran lebih untuk foya-foya urungkan saja, anggarkan untuk beli tiket kereta, usah yang kelas eksekutif, cukup kelas ekonomi, sekelas kereta malam jarak jauh matarmaja, traveling-lah sendiri. Carilah penginapan sederhana tapi dekat akses dengan tempat wisata. Kemudian jatuhlah disana, jika ada yang membantumu bangun, coba dongakkan kepala, lihatlah barangkali dia jodohmu. Perjalanan akan membawamu bertemu banyak hal, mungkin saja kau akan bertemu cinta.

“Ran, mau ngapain loe ke Malang “, Hani interogasi.

” Mencari cinta yang hilang ”

” Hilangnya kapan? ”

” Sebelum masehi”

“Ya dipungut orang, kalo beruntung mungkin sudah membatu jadi fosil wkwkwk”

Sesungging senyuman ringan. Obrolan sebulan ke belakang.

Rani celingak-celinguk di gerombolan kecil tukang ojek, menunggu barangkali ada yang memanggil.

Bersambung…

0

Kamu di Tata Surya (2)

You are what your thin slice. [Malcolm Gladwell]

Setelah briefing dengan panitia, Bayu berhambur ke area sepanjang panggung utama acara. Hiruk pikuk tawa, riuh rendah musik mulai dari genre rock clasic hingga keroncong jawa. Cekikikan dan cekakakan pengunjung, ada normal dan abnormal, ada kondean ada pula cadaran, ada metro seksual kelasan dan ada banci kawean, ada para anggun juwita nan ada homo homo gagah perkasa, pun ada para satir dan sarkas satu dua. A part of them love fashion, dan sebagiannya mungkin hanya sekadar respect saja. Dan Bayu, dia hanyalah seorang yang takut lapar di berantah manusia-manusia ibu kota.

Sembari memandangi sorot lampu berwarna, sesekali berbincang dengan pengunjung yang nampak bingung, dia mengamati stand demi stand rustic nan mewah dari ujung ke ujung. Setelah acara tadi siang sebenarnya dia ingin limbung, tapi urung. Sebab melewatkan kesempatan ini berarti merencanakan hari-hari murung. Selagi halal, kenapa tidak bergabung ?

Jam digital di lengan kirinya masih menunjukkan pukul dua puluh dua. Pengunjung justru sedang ramai ramainya. Ini hari terakhir, setelah acara berlangsung sepekan lamanya. Guest star mulai dari desainer Amerika sampai tuan rumah Anne Avantie Yayasan Puteri Indonesia, artis I Gunawan juga nampak terlihat wefie dengan kerumunan massa. Tak ketinggalan artis religi fenomenal yang berhijab bak mukena juga hadir dan saat ini masih menjadi pengisi acara di panggung utama dengan koleksi baju baju pengantinnya. Banner segala rupa memagari sepanjang pelataran pintu masuk hingga parkir terdalam Jakarta Convention Center. Kartu nama bertebaran dimana-mana menyatu bersama dengan sampah tissue berbekas merah bibir dan kertas blink-blink di sepanjang trotoar merah buatan dalam gedung.

Bayu terpejam beberapa jeda. Mengantuk.

“Bay!!!! “,”Kamu Bayu, SE kan? Yang tadi siang baru pake toga di gedung serba guna Universitas tak terlalu ternama hahahaha”, Wanita berkerudung jingga, yang wajahnya seperti terlihat satu barisan dengannya ketika membaca sumpah wisuda tadi siang.

“Loe ngapain disini, ran? “, masih menguap.

” Dasar bocah kecanduan narkoba, ngantuk melulu dari lahir, gue nyari jodoh disini “, masih bercanda.

” Eh serius, gue juga sedang mencari, jangan jangan loe… Loe… Jodohku selama ini”, kantuk Bayu menghilang, beberapa jeda berikutnya mereka terlihat berjalan beriringan tawa di selasar outdoor fashion.

“Tadi sore, aku langsung cabut ngantar orang tua ke rumah sodara di deket City Walk. Terus janjian dengan Nadia disini kasih berkas lamaran”, “Tumben, pake kemeja slim fit begitu, cucok tauk, haha”, Rani usil.

“Oke, aku ganti baju, tapi kasih aku makan sebulan mau? “, Bayu tak terima.

“Jadi pengen nyorakin, wkwkwk”, tawa keduanya membahana.

“Doakan pensiun jadi pengangguran ya”, “Mudahmudahan ada pekerjaan terbaik buat gue”,

Tepat lima belas menit menjelang pukul dua puluh tiga, Rani sudah bergelantungan di bus transjakarta yang semangat kondekturnya masih on layaknya pukul tujuh pagi.

Well, semua orang sudah mendengar satu quote penting dalam sosial Motivation bahwa “do not judge the book by the cover”, karena apa yang nampak di luar tak selalu menunjukkan apa yang di dalam. Tapi, ada teori representasi yang juga harus andil mengimbangi, bahwa semua orang itu selalu, sekali lagi selalu, akan menilai apa yang dia lihat dari apa yang nampak di permukaan. Maka, menjaga citra itu perlu. Bukan dengan membaguskan lahiriah, karna percayalah, itu artinya kamu hanya akan membangun fatamorgana, dan semua yang kamuflase tidak akan berusia lama. Sebaik baik menjaga citra adalah dengan meng”indah”kan dan membaikkan batin, yaitu apa-apa yang ada di bawah permukaan. Maka keselarasan kebaikan dan keindahan yang nampak di luar dengan keindahan yang nampak di dalam akan awet, karena jauh dari kemunafikan. Dan ingatlah, tidak ada manusia yang betah memakai topeng, fiks karena pakai topeng itu tidak nyaman. Maka, baikkan batinmu, maka otomatis lahirmu akan terbantu. Jaim itu tidak munafik, selama apa yang dipelihara itu luar dalam. Clear ya!

Kamu akan dinilai manusia dari cuplikan tipismu, kata Pak Malcolm Gladwell.

Sepanjang perjalanan, Rani terkantuk-kantuk. Kerudung jingganya kusut masai, kondisi tali sepatunya jauh lebih buruk. Tiba di shelter Karet, langkah kakinya berburu waktu.

Jakarta malam hari, masih menyimpan pemandangan siang hari. Kecuali musim mudik, kemacetan adalah hal yang pasti. Lalu lalang pengadu nasib disana-sini. Jembatan layang sudah bertambah fungsi menjadi tempat tinggal sementara para tunawisma ber-bonek tinggi. Bantaran sungai Ciliwung ditumpuki sampah kehidupan dan serapah kematian. Jurang antara kalangan elite dan para proletar gelandangan papa menganga tak terhubungkan.

Gedung pencakar langit bak bintang-bintang ranum di bawah rerimbunan langit, titik titik gemerlap. Jalanan seakan ular menyala memanjang merayap. Irama malamnya bukan katak sawah atau jangkrik tanah atau burung alap-alap. Riuhnya oleh klakson metromini yang rombeng nan pengap. Malam hampir larut, namun satu dua masih nampak pengumpul sampah mengais timbunan bakaran sampah yang kecil berasap.

Rani tergesa menuju kontrakan sempit di celah-celah gang. Welcome to the jungle. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari dimana curriculum vitaenya akan dinilai, lalu takdir Tuhanlah yang akan menentukan di belahan bumi mana ia akan menjual kompetensinya, membagi kemanfaatannya untuk sesama. Beberapa sertifikat yang dilampirkan memang tampak meyakinkan, ditambah beberapa bukti pengalaman bekerjanya lebih dari kata cukup. Ia menanti, takdir mana yang akan menjemputnya terlebih dahulu. Apakah instansi A, atau perusahaan B, atau institusi C, atau malah datang sesosok D. Hahaha entahlah, kadang memang ada masalah-masalah yang hanya selesai oleh waktu.

Masing-masing kita sedang membangun kesan tebal di dalam untuk memunculkan kesan tipis luar. Sayatan apel sebelah kanan mungkin lebih manis dari sayatan apel sebelah kiri. Tapi, kedua belahan itu sejatinya adalah satu apel yang sama.

Lah, ini kita sedang bicara apa ya? Jodoh apa apel? Yang jelas keduanya punya persamaan, jodoh apapun, jodoh jiwa, jodoh pekerjaan, atau jodoh rejeki, biasanya bermula dari sayatan tipis kesan orang lain kepada kita. Makanya ada kutipan iklan parfum legendaris, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”.

Memang betul, nilai manusia itu tidak ditunjukkan dari penampilan luarnya. Tapi cara tergampang orang lain menilai kita, adalah dari apa yang kita tunjukkan pada mereka, tentu saja mereka akan judge you “by the cover”. Not for judgement, but to typing a point for you.

Malam ini Rani pulas.

BERSAMBUNG…

0

Kamu di Tata Surya – Tu[h]an chapter 1

Cinta sejati itu ada, katanya. Padahal manusia itu nisbi, tidak pernah sejati. Saya di tata surya hanyalah titik unsur yang entah mungkin tidak terbaca. Kamu di orbit semesta barangkali juga sebuah entah yang menunggu giliran mati. Meski semua anasir yang menghubungkan makhluk dengan pencipta itu sejati, tapi semua itu relatif kecuali relatifitas itu sendiri.

Kamu bingung, jangan bilang saya juga sama. Tidak, sekali sekali sungguh saya tidak bingung. Manusia tinggal berperan apa perannya. Selanjutnya biarkan tangan Tuhan yang berbicara. Do what your own. Masa lalu itu memang penentu, tapi ia tidak berhak mengambil alih masa depanmu. Dan satu hal yang maha penting, Tangan Tuhan lebih menang dari semua kemenangan siapa siapa. Termasuk perihal cinta. Semua jomblo di dunia berbicara cinta, kamu tak terkecuali. Semua berteori, berdalil pada hati. Perihal cinta memang, logika mati. Roman dan puisi jadi kitab suci. Derajat nasihat turun pangkat di telapak kaki. Ya begitulah memang, lazimkan saja. Toh, algoritma saja bisa nol sama dengan tak terhingga. Maka bicara saja apa yang kau rasa.

“Ran, sudah ambil toga?” Bayu tergesa memasukkan kwitansi acara kelulusan. Tas gendongnya lepek, apek.

Rani mengacungkan toga dari bawah tangannya tanpa menoleh kepada si empunya tanya. Mulutnya tersumpal pulpen, tangan kirinya membetulkan sepatu kets warna genangan hujan.

“Yaudah, gue cabut”, Bayu beranjak ke lobi kampus tempat penukaran secarik kertas bukti lunas pembayaran dengan kain kebesaran yang akan berperan sehari saja di acara kelulusan.

Di lobi gedung rektorat tak beraturan mahasiswa wira wiri selfi dengan petugas tukar kwitansi, sebagian terlihat bergerombol di ujung taman main drama wisuda dadakan, beberapa terlihat masih mengantre di ruang administrasi keuangan berlomba dengan deadline pukul tujuh belas nol nol sore waktu Indonesia bagian barat. Namun di dimensi waktu yang sama, dengan dimensi ruang berbeda, tak terendus mata satu dua yang masih pasrah di ruang pembimbing, dimarah marahi tanpa kompromi. Entah siapa yang salah. Manusia tak ada yang mau dianggap salah. Tuhan menciptakan ego seperti sebuah peti, untuk menang, tapi sepaket dengan ego ada sebuah kunci bernama kebijaksanaan, bukan untuk kalah, melainkan untuk mengalah.

“Bay, ini undangan dari gue, dateng ya, “wajah sumringah menyembunyikan lelah, kawan seangkatan sudah sebar kabar bahagia ingin menikah.” Loe kapan? “, mengedipkan mata.

” Kalo loe hari H berhalangan, gue siap menggantikan jadi mempelai prianya”, suara tawa tak beraturan, satu dua asli, selebihnya basa basi.

“hahahaha, bisa aja loe”, si empunya undangan sudah menenteng tas hitam berlogo akademik di tangan kanan, tangan kirinya ada tumpukan kecil kertas berwarna merah muda berpadu abu emas.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melewati sebuah fase dimana orang tuanya tak tahu menahu dan mungkin juga tak mau tahu dari mana dan bagaimana ia mampu bertahan secara finansial dengan biaya pendidikan yang… ya sebenarnya mahal tidak, tapi ya juga tidak murah dan tidak mudah. Semua warga Indonesia memang berhak atas pendidikan, tapi hak warga negara yang hidup di negara berkembang memang beginilah, perlu perjuangan untuk sebuah hak. Sementara di belahan bumi sebelah barat sana hak macam apa yang juga dikampanyekan, peduli setan. Tertatih setiap akhir bulan untuk siklus anak kos memang bukan isapan jempol. Setidaknya bagi Bayu. Polanya adalah berjuang dari pagi sampai sore untuk siklus bekerja dan kuliah, lalu malamnya, ambil job shift malam freelance. Sisanya adalah tugas kuliah, haha. Tak apa ipk biasa, asal dapat lulus tepat pada waktunya. Jika kalian adalah seorang mahasiswa pemuja nilai, rasanya perlu tahu bahwa perjuangan bertahan itu lebih segalanya dari pada hanya sekadar simbol simbol akademik di selembar kertas transkrip nilai yang lebih sering mewakili subjektivitas dosen pengajar daripada kompetensi sesungguhnya peserta didiknya.

“Bay, nanti malem ada job freelancer fasilitator di Jakarta Fashion Week, temen gue berhalangan hadir mendadak sakit, butuh dua malem, sejuta dapet lah, lebih malah”, suara menunggu di seberang sana.

“Tapi gue ada acara wisuda”,

“Memang wisuda nginep, ambil aja lumayan, siapa tahu rejeki loe ada disini ”

” Dua malem aja? ”

” Iya, tapi sampe pagi, nggak tidur, oke ya? Costum dan tool ada di gue, kontak aja sebelum jam 8 malem”

” Okelah, nanti nyusul”, Dia teringat utang utangnya.

Di sepanjang perjalanan, ia memejam mata, bukan sebab mengantuk, lebih kepada suntuk. Mulai berkhayal hal hal baik di masa depan. Setelah wisuda, ia akan kirim lamaran kemana mana, lalu ambil panggilan yang tercepat, lalu taken kontrak setahun, naik jadi karyawan tetap, dua tahun naik jabatan, empat tahun menabung, lalu menikah,…eh tiba tiba terlintas bayangan menikah di benaknya.

Jujur saja, sudah banyak yang bertanya kapan. Kapan menikah lah, kapan punya pacar lah, kapan kenalin pacar lah, kapan siap jatuh cinta lah. Perihal cinta, ia awam, modalnya cuma membaca roman, putar film korea, apatah lagi, kawan kawannya kebanyakan lelaki, wanita hanya satu dua, itu juga yang sudah tahu luar dalam pribadinya, tidak lah untuk pacar, dia penganut aliran lebih baik diam diam jatuh cinta lalu menikah dari pada umbar umbar pacaran tapi ujung ujungnya gagal menikah, atau lebih tragis lagi bertahun tahun pacaran menikah dua bulan lantas pisah. Itu tragedi kemanusiaan paling riil. Tapi pertanyaannya sekarang, apa Bayu pernah jatuh cinta? Pernah, dulu, zaman putih abu, dengan seorang wanita bernama Sifa, kawan sekelas, bukan karena cantik, Sifa gadis biasa dengan standar kecantikan tujuh koma lima, yang membuatnya berbeda adalah kecerdasan dan tampilan apa adanya dia, membuat dia menarik, tidak menyembunyikan apa yang tampak, tapi tidak juga menampakkan apa yang tersembunyi, who is who she is. Maka, tidak perlu menjadi orang lain untuk berteman dengannya, dan tidak perlu bersusah menjadi seorang teman yang nampak baik di depannya. Itu sudah point plus yang mampu menambah kadar kecantikan wanita nol koma lima. Tapi dimana. Sifa sekarang? Ah entahlah, mungkin dia sudah menikah punya anak dua, atau jangan jangan dulu pernah menyimpan rasa tertarik yang sama pada Bayu lalu menyimpan dan menanti sampai Tuhan menarik garis hidup keduanya bertemu. Kita lihat saja, tapi kisah cinta semacam itu sangat biasa, tidak heroik. Bayu harus mencari seseorang yang mampu mengimbangi heroisme kehidupan dia yang tingkat fluktuasinya seperti pola inflasi di Indonesia zaman orde baru. Hahaha,

Jodoh memang hal ke nomor dua belas yang dipikirkan Bayu, nomor sebelumnya adalah rentetan kebutuhan hidup seputar perut, lalu kuliah, dan ada harapan harapan yang harus ia wujudkan untuk keluarganya sebelum ia memutuskan membelah hidupnya menjadi dua berbagi dengan hidup lain bersama seseorang entah siapa nanti. Hal terbesarnya adalah menjadi orang yang lebih berarti, yang isi otaknya tidak hanya tentang perut. One day, one day, one day, i’ll be the one that always I have to be.

Jodoh katanya adalah cermin, maka menjadi sebaik baiknya manusia agar bayangan yang terpantul sama baiknya dengan yang tegak nyata sama dengan bidang cermin, adalah prinsip yang tidak perlu dijunjung junjung, cukup diyakini. Apa yang yang diyakini di hati, lalu benar-benar termanifestasi itu lebih dari sebuah prinsip yang dikoar koar tapi sekadar utopia belaka. Setidaknya demikian baginya.

Jodoh di tangan Tuhan, bukan? Maka, tolong Tuhan keep saja dia di tanganMu, berikan padaku jika Aku telah siap berbagi hidup dengan selain diriku. Tunjukkan padaku dengan sederhana, agar aku tak perlu berpikir keras untuk menerkanya. Aku akan berjalan random, bertemu banyak manusia, lalu aku akan memilihnya satu. Begitu.

Bayu tertidur dalam perjalanannya menuju Jakarta.

BERSAMBUNG…

0

Only depend on You

#Pernah nggak loe melewati sebuah titik hidup tanpa ekspekatasi apa-apa?

Loe cabutin semua kertas-kertas rencana,

Loe coretin semua semua timeline hidup loe yang penuh sesak dengan agenda.

Buku mimpi yang seperempatnya telah menjadi nyata,

Loe tutup dan masukin kardus kolong meja.

Dan teka-teki hidup membuatmu harus benar-benar bertekuk lutut pada sebuah doa,

“Ya Allah, terserah Engkau saja”.

0

Bukan Salah Presiden

 

Maka tibalah pena, pada tajuk sejarah suatu pagi

Menuliskan kisah hitam putih sebuah generasi

Panjang bernarasi, nan lugas beropini, pun gegas berdikari

Selembar dari lelembaran dan satu dari sesatuan negeri

Ia baru saja melahirkan demokrasi

Warna harinya berwarta dan corak wartanya berhari

Menjual obral penjara tirani dan membeli mahal kebebasan pribadi

Ditawarkan pada pedagang kaki lima dan supir metromini

 

Layaknya maha saksi abadi

Lalu lelintasan tak pernah mati

Siangnya, hiruk-pikuk oleh celetuk rutuk para pengutuk

Petangnya, riuh kisruh oleh gemuruh para perusuh

Kata telah enyah percuma

Diumbar sangar di tengah kota

Sia-sia orasi, tak dapat solusi

Hanya simpati, sekedar apresiasi

 

Para awam geram

Negeri seribu lautan namun baru saja impor garam

Memaksa proletar berijazah kasar berduyun ke negeri tetangga

Mengadu aib sendiri tetiba berujung adu domba

Satu masalah belum jua usai kau tambah benih permusuhan lagi

Tak puas rupanya sudah menukar harga diri dengan sekeping roti

Merasa gagal menjadi negara lalu semua tunjuk tangan ingin berdiri di depan

Beryakin diri mampu menodong kemiskinan dengan senapan kebebasan

 

Nyatanya, ada yang terkoyak di sudut negeri nun antah berantah

Terjamah penjajah yang sempurna menjarah

Mula bersama bekerja, selanjutnya mereka yang kaya

Di depan duduk semeja, di belakang gencatan senjata

Negeriku bungkam, muram sembari terdiam

Sebab bicara satu jam puluhan hari ia dikecam

Maka aku mencari sepuluh pemuda

Yang tak cecuma pandai bicara, namun securah berkarya

Untuk negeri yang katanya akan mulai mendewasa

Meski hanya berbekal keterampilan membaca

 

Dan di akhir kisah, tenggelamlah perahu para pengumpat,

Di hadapan sekian jejuta rakyat.

 

Seratus hari mencoba sempurna

Tak cukup sederhana

Sewindu merubah wajah sejarah

Tak semudah membaca sumpah

Ini soal amanah

Hingga sesegala mutlak telak milik yang di langit

Sedang tugas kebangkitan hanya perlu bangkit

 

Bukan salah presiden,

Bahkan sampai membuatmu tak hendak punya argumen.

 

Di sebuah bumi yang mencintai langit, 09032014

Setetes tinta untuk Indonesia.

Dari saya, Roisiyatin.